Kamis, 16 Oktober 2014

Impor Aja Deh..

Abad sekarang, abad 21 kan? Abad dimana manusia enggak bakalan lepas dari yang namanya “LISTRIK”. Mau ngelakuin apa aja pasti bakalan butuh listrik. Nyalain lampu, nonton TV, nge-chas ponsel, laptop, dan masih banyak lagi alat kebutuhan manusia yang membutuhkan listrik. Kecuali sih kalo elu orang desa pedaleman, yang tinggal di hutan rimba, dan jauh dari peradaban. Boro-boro elu butuh listrik, listriknya aja enggak sampai. Hehe.

Di Indonesia, ada suatu badan usaha milik Negara yang ngurusin masalah listrik. Baik dari segi produksi sampai segi distribusi. Badan usaha tersebut adalah Perusahaan Listrik Negara yang biasa disingkat PLN.


PLN? Selamatkan Bangsa dari Kegelapan Malam

Akhir-akhir ini, elu ngerasaian enggak sih kalau listrik tuh jadi sesuatu yang “Langka”? Ada program mati listrik bergilir, kalo lagi hujan deres listrik sering mati, dan kalo lagi banjir, listrik pasti mati. Belakangan sih gua tau, kalo listrik mati ketika banjir tuh biar enggak terjadi konslet.

Gua pernah denger kalau besar pendapatan PLN lebih kecil dari besar biaya produksi listriknya. Katanya sih gara-gara PLN disuruh (baca: harus) beli solar (bahan bakar PLTD) dari PERTAMINA. Masalahnya, harga solar yang dijual PERTAMINA lebih mahal dari harga solar impor.

Hal ini, merupakan ujian bagi pihak PLN. Memilih antara menanggung rugi membeli solar dari PERTAMINA sebagai bentuk “Cinta Produk dalam Negri”, atau memilih untuk mengimpor solar yang harganya lebih murah. Disinilah, pihak PLN diuji kebijakan dan kesabarannya dalam mengambil keputusan.    
Nah, di postingan BLOG gua kali ini, gua pengen ngajak elu berpikir langkah yang bakal gua ambil mengenai masalah solar ini. Kalau gua jadi direktur utama PLN, gua bakalan memilih untuk mengimpor solar, kenapa?

1. Pengeluaran Negara Bakal Lebih Kecil

PLN tuh dapat uang untuk produksi listrik dari investor dan dari anggaran Negara. PLN bisa mendapatkan 1 liter solar dengan harga Rp4000,- kalau impor. Sedangkan kalau beli di PERTAMINA, 1 liter solarnya itu Rp6000,-. Kalau dilihat, beda 2000 rupiah memang tidak terlalu besar. Tapi, kalau PLN beli solar 1 milyar liter, bedanya bisa sampai 2 milyar rupiah! Gede banget kan???

Daripada uang anggarannya dibuang-buang untuk beli solar, mendingan uangnya digunakan untuk menunjang dunia pendidikan di Indonesia. Ya enggak?

2. Masyarakat bawah lebih untung

Gua tau, ketika gua memilih untuk impor solar. Pasti akan ada banyak pihak yang mencaci, menjelek-jelekkan, dan menghina gua. Tapi, asal elu tau aja, dengan gua memilih impor solar, jumlah solar yang dipasarkan kepada masyarakat Indonesia akan lebih banyak. Dan sesuai hukum ekonomi, harga solar akan menjadi murah.

Dengan murahnya harga solar yang ada dimasyarakat, maka harga-harga kebutuhan di masyarakat-pun akan menjadi lebih murah. Bis-bis, angkutan umum yang menggunakan solar, tarifnya yang tadinya mahal bisa jadi murah. Karena biaya angkutan umum murah, rakyat-pun akan kembali memilih untuk menaiki angkutan umum.



Dua alasan diatas, dua alasan yang gua rasa udah cukup kuat sebagai alasan PLN untuk mengimpor solar. Tapi tergantung dari pihak PLN-nya juga,  pihak PLN harus kuat dan konsisten untuk melewati seluruh rintangan yang ada.

Selamat berjuang PLN!    

  
Posting Komentar