Minggu, 05 Oktober 2014

Cara Nguji Keputusan "terbaik" elu

Ngomongin tentang kehidupan tuh pasti tidak bakalan ada habisnya. Pasti bakalan ada banyak masalah yang elu hadapi di kehidupan elu kan? Dan di setiap masalah itu, elu juga menemui banyak cara untuk menyelesaikan masalah-masalah tersebut.


Yakin Ama Keputusan Elu?

Dari sekian banyaknya, bahkan sampai berjuta-juta masalah yang elu hadapi selama ini. Sebenarnya, ada satu masalah yang sangat penting. Masalah yang sering dilewati dengan begitu saja. Masalah yang bisa disebut sebagai pendahulu atau “Nenek”-nya dari setiap masalah-masalah yang ada. Masalah yang pertama kali harus kamu selesaikan. Yaitu, memutuskan cara terbaik untuk menyelesaikan masalah tersebut.

Banyak orang di dunia ini (mungkin gua dan elu juga termasuk), yang tidak dapat menyelesaikan “Nenek”-nya masalah. Bukan karena mereka tidak tau keputusan atau cara yang terbaik untuk menyelesaikan masalah tersebut. Bukan! Tapi, karena mereka tidak memiliki keberanian untuk ber-“Aksi” sesuai dengan keputusan yang telah mereka pilih.

Menurut gua, ada tiga faktor yang menyebabkan sesorang tidak berani untuk ber-“Aksi” sesuai dengan keputusan “Terbaik” yang telah mereka pilih.

1. Takut Salah

Iya, takut untuk berbuat salah. Ini nih, faktor yang pertama kali membuat seseorang ragu dengan keputusannya. Faktor yang paling umum membuat hidup seseorang menjadi hancur. Pengen ngelakuin ini, takut salah. Pengen ngelakuin itu, takut salah. Pokoknya serba merasa bersalah kalau ngelakuin sesuatu. Dan pada akhirnya pun hanya diam, tidak memutuskan apa yang akan elu lakukan atau apa yang elu pilih. Jelas ini sangat bahaya kan? Jadi, beranilah kawan! Tak usah takut salah.





Tuh... Motonya Nike Bagus 

2. Diremehkan Orang Lain

Komentar, sesuatu yang terkadang bisa menyejukkan telinga dan terkadang bisa bikin telinga panas. Sering kita curhat ke temen tentang masalah yang kita hadapi, trus kita juga ngasih tau ke dia cara kita untuk mengatasi masalah tersebut. Ada temen yang mendukung kita dan meyakinkan kita atas keputusan yang telah kita ambil. Ada juga yang mengusulkan cara lain untuk menyelesaikan masalah tersebut. Dan ada juga, teman yang bukannya mendukung atau memberi solusi yang lebih baik. Tapi dia malah meremehkan, bahkan menjelek-jelekkan keputusan yang kita pilih. Gimana tidak bikin nge-Down coba?

Hal ini pun pernah gua alami ketika gua memutuskan untuk melanjutkan studi di IPB, Institut “Pertanian” Bogor. Banyak orang yang berkomentar negatif tentang pilihan gua ini. Banyak orang yang ngejele-jelekin keputusan gua ini.

gua akui, awalnya gua emang goyah akan keputusan gua ini untuk melanjutkan studi di IPB. Tapi, gua yakin kalau IPB merupakan salah satu PTN yang terbaik di Indonesia, PTN yang mampu membantu gua untuk mewujudkan mimpi-mimpi gua, dan gua juga yakin bahwa “pertanian” itu bukanlah hanya sekedar tanam-menanam padi disawah melainkan mencakup soal hidup dan mati suatu bangsa. Karena itulah gua yakin kalau melanjutkan studi di IPB merupakan keputusan “Terbaik” yang telah gua pilih.

Jadi, tak usah elu peduli dengan komentar orang lain yang membuat diri elu ragu akan keputusan “Terbaik” yang akan atau telah elu pilih.

3. Orang Tua Tidak Setuju

Faktor terakhir ini nih. Faktor yang benar-benar akan menguji keputusan yang telah elu pilih. Benar-benar akan membuktikan apakah elu yakin dengan keputusan “terbaik” yang telah elu pilih.

Ketika gua dulu lulus SMP. Orang tua gua meminta gua untuk pindah dari pesantren gua sebelumnya. Awalnya sih gua setuju-setuju saja untuk pindah ke pesantren lain. Tapi, setelah gua berpikir lebih dalam, gua memutuskan untuk melanjutkan SMA di pesantren yang sama. Mendengar itu, orang tua tidak setuju, orang tua gua “Ngotot” agar gua pindah ke pesantren lain.

Gua pun memikirkan lebih dalam apakah keputusan gua untuk tetap melanjutkan SMA di pesantren yang sama itu merupakan keputusan “terbaik” atau tidak. Setelah berhari-hari memikirkannya, gua pun memutuskan, kalau keputusan gua ini merupakan yang “terbaik” untuk gua.

Setelah itu, gua pun berbicara baik-baik kepada orang tua gua mengenai keputusan gua ini. Awalnya orang tua gua tetap tidak setuju. Tapi, setelah gua terus berusaha untuk berbica baik-baik kepada kedua orang tua gua, pada akhirnya, orang tua gua setuju dengan keputusan “terbaik” gua.





Jangan Lupa Sama Ini. (Penting!)

Oke! Jadi, menurut gua, tiga faktor diatas sudah bisa mewakili dari seluruh faktor yang ada untuk membuktikan, apakah keputusan yang elu ambil itu, benar-benar merupakan keputusan yang “terbaik” untuk diri elu.
Posting Komentar